Buku ini mengkaji pemikiran Mangkunegara IV mengenai sikap moral, kebudayaan, dan pengalaman keagamaan orang Islam Jawa dalam menghadapi perubahan kehidupan masyarakat pada masa kolonial. Berangkat dari tradisi kekeluargaan Keraton Mangkunegaran, pemikiran tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai luhur budaya Jawa tidak sekadar dipertahankan, tetapi juga dimaknai dan diberdayakan kembali agar sesuai dengan tuntutan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik pada zamannya.
Salah satu gagasan utama buku ini adalah etos kerukunan keagamaan orang Islam Jawa, yang dipahami bukan sebagai identitas keagamaan tertentu, melainkan sebagai pengalaman keagamaan yang dapat diterima dalam kehidupan bersama, terlepas dari perbedaan agama maupun latar belakang sosial. Etos tersebut dibangun melalui sikap baik, hormat, rukun, dan peduli terhadap kehidupan serta sesama manusia. Nilai ini tercermin dalam tepo seliro (tenggang rasa), andhap asor (rendah hati), ojo mitunani wong liyo (tidak merugikan orang lain), dan amamangun karyenak tyasing sasami (berusaha menciptakan kebaikan bagi sesama).
Pemikiran Mangkunegara IV juga menunjukkan adanya proses transformasi sosial terhadap warisan moral Jawa dalam menghadapi tatanan kolonial. Melalui karya sastra seperti Serat Tripama dan Serat Wedhatama, serta melalui perkembangan kehidupan ekonomi dan politik Mangkunegaran, nilai-nilai budi luhur diarahkan menjadi pedoman yang lebih realistis, rasional, manusiawi, dan terbuka bagi kehidupan masyarakat yang beragam. Kerukunan dengan demikian tidak dipahami sekadar sebagai keadaan tanpa konflik, melainkan sebagai sikap aktif untuk menjaga keseimbangan, menghormati sesama, dan mencegah tindakan yang merugikan orang lain.

Ulasan
Belum ada ulasan.